News Published
Home » Media Room » News

Back to News
Published on 18-11-2008
Sejumlah Proyek PLTU Gunakan Besi Impor, Industri Baja Konstruksi Kehilangan Potensi Penjualan
Kalangan produsen baja konstruksi kehilangan potensi penjualan menyusul langkah PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang memilih menggunakan produk impor untuk sejumlah proyek dalam program pembangunan PLTU 10.000 megawatt (MW).

Bahkan sejumlah subsektor di industri baja mengalami kerugian akibat peningkatan volume produk impor yang saat ini diperkirakan mencapai US$200 juta.

Purwono Widodo, Direktur Komersial PT KHI Pipe Industries-anak perusahaan Krakatau Steel-mengatakan sejumlah subsektor konstruksi yang merugi cukup serius antara lain industri pipa, baja tulangan beton (BjTB), pelat baja, besi siku, dan produsen welded beam (baja las).

Nilai kerugian tersebut, kata dia, sebenarnya dapat ditekan apabila PLN memprioritaskan penggunaan produk besi dan baja lokal untuk memenuhi kebutuhan di sejumlah proyek pembangkit listrik.

Menurut dia, proyek PLTU 10.000 MW tersebut membutuhkan pipa baja sekitar 100.000 ton dalam kurun waktu 2 tahun.

"Sayangnya, mereka memilih menggunakan produk impor. Kalau arus impor tidak dibatasi, industri pipa lokal terancam bangkrut," katanya, dalam diskusi dengan topik Kondisi Industri Baja Nasional 2008.

50 Proyek
Dia memperkirakan saat ini terdapat sekitar 50 proyek PLTU yang harus segera diselesaikan pemerintah di mana setiap proyek membutuhkan pipa baja rata-rata sebanyak 2.000 ton.

Chairperson Indonesian Iron and Steel Industry Associations (IISIA) Fazwar Bujang mengatakan baja konstruksi dari China saat ini tidak lagi diimpor dalam bentuk produk setengah jadi, tetapi berupa produk hilir yang juga diproduksi oleh industri di dalam negeri. " Karena itu, perusahaan pipa baja semakin terpukul," katanya.

Co-Chairperson Bidang Long Product IISIA Ismail Mandry menambahkan untuk proyek coal fired steam PLTU Indramayu (berkapasitas 300 MW- 400 MW) dan gas power plant project PLTU Muara Karang, seluruh proses konstruksinya menggunakan baja impor dari China dan Jepang.

Hasil investigasi IISIA pada 12 November terungkap adanya sejumlah produk impor yang terdiri dari welded beam, profil, pelat baja [hot rolled plate], besi siku, yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Barang impor itu, ditengarai akan digunakan pada proyek pembangkit PLN.

"Kondisi ini sangat ironis karena pada saat yang sama pemerintah sudah menerbitkan aturan untuk mengoptimalkan penggunaan produksi dalam negeri," katanya.

Direktur Pemasaran PT Gunung Garuda Group Sujono mengatakan importasi itu bisa berjalan mulus karena PLN bekerja sama dengan kontraktor China yang memiliki hubungan khusus dengan produsen baja setempat.

Berdasarkan penelusuran Bisnis, salah satu kontraktor yang terlibat adalah China National Machinery Industry Corporation (Sinomach) yang menghubungkan pabrikan baja Beijing Beizhong Steam Turbine Generator Co Ltd untuk mendatangkan pipa baja jenis steam turbine structure
& insulation of pipeline. Produk impor tersebut diimpor untuk mendukung penyelesaian proyek PLTU Indramayu.

"Saya dengar akan ada lagi delapan kapal pengangkut baja konstruksi yang siap merapat ke Priok untuk memasok proyek PLTU di Indramayu. Gudangnya ada di sektor 203," katanya.

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia, Jakarta
bisnis.com